Enam Bandara Dibawah Angkasa Pura Akan Jadi Perusahaan Sendiri

Enam Bandara Dibawah Angkasa Pura Akan Jadi Perusahaan Sendiri

Untuk mengembangkan kapasitas bisnisnya, PT. Angkasa Pura I (Persero) atau Angkasa Pura Airport akan melakukan spin off enam bandar udara yang dikelolanya. Ke enam bandara tersebut adalah Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar BaliBandara Internasional Juanda Surabaya, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan, Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin. Dengan spin off, enam bandara itu akan menjadi perusahaan tersendiri.

Spin off atas enam bandara tersebut tidak berarti Angkasa Pura Airport melepas kepemilikannya. PT. Angkasa Pura I (Persero)  hanya memisahkan enam bandara tersebut  dari struktur perusahaan. Istilahnya, enam bandara tersebut bakal menjadi anak perusahaan. PT. Angkasa Pura sudah mengajukan rencana spin off tersebut ke Kementerian BUMN.

Tujuan dari dari spin off adalah sebagai langkah awal dari skenario perusahaan untuk menjalin kemitraan strategis atau strategic partnership dengan investor. Kemitraan tersebut tidak akan bisa terlaksana jika enam bandara tersebut berstatus cabang. Hal itu dikarenakan laporan keuangan bandara masuk ke pusat atau PT. Angkasa Pura I (Persero). Jika sudah dilakukan spin off dan menjadi entitas bisnis terpisah, enam bandara itu bakal punya laporan keuangan sendiri. Laporan keuangan masing-masing bandara itulah yang nanti dilihat oleh investor.

Strategi itu mesti ditempuh karena kapasitas finansial PT. Angkasa Pura I tidak cukup untuk membiayai pengembangan enam bandara besar tersebut. Di sisi lain, jumlah penumpang dan pesawat terus bertambah sehingga membutuhkan ekspansi bandara, baik untuk runway pesawat maupun terminal penumpang. Untuk mengembangkan Juanda, Ngurah Rai, dan bandara besar yang lain, minimal butuh Rp 5 triliun per bandara.

Sebagai gambaran, tahun 2013 lalu PT. Angkasa Pura I membukukan pendapatan Rp 3,09 triliun dan laba Rp 819 miliar. Dengan kinerja finansial tersebut, memang sulit bagi Angkasa Pura I untuk mendanai ekspansi pengembangan enam bandara besar itu. Selain itu  Angkasa Pura I juga harus memikirkan pengembangan tujuh bandara menengah dan kecil yang juga dikelolanya.

Rencananya sepanjang tahun 2014-2020, Angkasa Pura I merencanakan belanja investasi hingga USD 2 miliar atau sekitar Rp 24 triliun untuk 13 bandara. Salah satunya untuk bandara  Juanda Surabaya, Angkasa Pura I mengalokasikan sekitar USD 500 juta atau Rp 6 triliun.  Maka dari itu dibutuhkan strategic partnership untuk menggaet investor. Semoga dengan menjadi perusahaan sendiri keenam bandara tersebut menjadi lebih maju dan bisa menjadi bandara terbaik di Asia.





Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>